Senin, 21 Januari 2013

SUARA MERDEKA NGABUBURIT


05 Agustus 2012
Ngabuburit Bersama Komunitas Unik
 0
 
 0
Sore hari sembari menunggu waktu berbuka puasa, banyak orang memanfaatkannya dengan bepergian ke luar rumah. Entah sekadar jalan-jalan atau berburu kebutuhan buka puasa.
Sedangkan bagi anak muda, waktu ngabuburit acap dimanfaatkan untuk kongkow bersama teman-teman. Ngabuburit bukan hanya sekadar tren, namun bisa disebut ritual yang identik dengan bulan Ramadan.
Bagi Anda yang malas bepergian keluar rumah, waktu ngabuburit bisa dimanfaatkan untuk menonton televisi. Namun, ketimbang menyaksikan sinetron yang menguras emosi, lebih baik menyaksikan program spesial Ramadan dari Tvku Semarang. Program ini bernama Ngabuburit On Air, sebuah program infotainment yang tayang setiap sore pukul 16.45 selama bulan Ramadan.
Ini merupakan kali kedua Ngabuburit On Air mengudara menemani waktu ngabuburit pemirsa setia Tvku. Tahun lalu, gagasan menggarap program khusus ngabuburit dicetuskan segenap kru produksi Tvku. Respons masyarakat yang bagus pada program ini pula yang menyebabkan pada Ramadan kali ini, Ngabuburit On Air tetap eksis menyapa pemirsa.
Dengan segmentasi pemirsa kalangan remaja dan umum, Ngabuburit On Air menyajikan liputan-liputan tentang komunitas, venue, serta kuliner khas Semarang. Program ini berdurasi 30 menit, yang dibagi menjadi empat segmen tayangan. Sebagaimana diungkapkan Lucia Mira Celia (21), produser Ngabuburit On Air, program ini hadir untuk menjawab kebutuhan informasi hiburan masyarakat Semarang dan sekitarnya.
”Banyak komunitas, venue dan kuliner di Semarang yang unik dan belum banyak diketahui masyarakat. Kegiatan yang kami liput pun tak masih disortir, hanya yang menarik dan punya misi bagus untuk pemirsa yang bisa ditayangkan,”ungkap alumnus Udinus Semarang itu.
Komunitas Unik
Ya, ada beberapa kategori komunitas yang bisa diliput untuk tayang di Ngabuburit On Air. Yang pertama, komunitas itu harus unik dan menarik untuk dikulik informasinya. Yang kedua, dipriotaskan komunitas yang belum banyak jenisnya di Semarang. Yang ketiga, komunitas yang belum banyak diketahui warga.
”Kegiatan komunitas yang diliput tim Ngabuburit On Air selalu punya pesan positif ke pemirsa Tvku. Misalnya program buka bersama anak yatim, berbagi takjil, atau event amal. Kami sekaligus ingin memberi teladan yang baik ke pemirsa.”
Seperti yang tampak pada episode Ngabuburit On Air beberapa waktu lalu. Episode itu menayangkan kegiatan komunitas Sefef (Semarang Female Fotofrafer) dan komunitas Semoc (Semarang Mercedes Benz Owner's Community) yang menggelar hunting foto model berhijab. Acara itu menyuarakan misi berhijab trendi nan cantik yang apik dibidik lensa kamera para fotografer.
Pihak Tvku berharap, acara-acara komunitas yang positif selama bulan Ramadan bisa diliput sebagai contoh yang baik untuk pemirsa. Ada pula episode liputan tentang komunitas inline skate Semarang yang beraksi di Simpang Lima Semarang tiap sore hingga malam hari.
”Sedangkan untuk venue yang bisa diangkat menjadi tema program ini ya yang paling ramai di Semarang. Misalnya Simpang Lima, Taman KB, jalan Pahlawan dan masih banyak lagi,” imbuh Mira.
Diakui perempuan berambut panjang ini, setiap stasiun televisi berlomba menyajikan tayangan spesial ngabuburit yang menarik. Sebab, waktu ngabuburit merupakan waktu prime time selama bulan puasa. Tidak mudah menyajikan tayangan yang bisa merebut hati pemirsa setia Tvku. Oleh karena itu, kreativitas dibutuhkan segenap kru tayangan spesial Ramadan

KOMUNITAS 80an

Komunitas 80-an Jogja

SEBAGIAN orang, tentu masih ingat bagaimana dulu begitu ngetopnya acara Aneka Ria Safari, Album Minggu Ini, Ria Jenaka, Film Chips, The A Team, Gemar Menggambar bersama Pak Tino Sidin, acara Cerdas Cermat, acara Klompencapir, Senam Kesegaran Jasmani (SKJ), permen Chocorico, Catatan Si Boy, Lupus, serial Aku Cinta Indonesia, serial Losmen, grup vokal Duran Duran, New Kids on the Block, lagu Suzanna, lagu Madu dan Racun, breakdance, sepatu Warriors dan sebagainya. Mereka yang ingat pastilah mereka yang mengalami masa remaja di era 80-an.
    Lantas di manakah mereka sekarang? Sudahkah mereka berubah menjadi uzur dan tak lagi menikmati gemerlapnya lampu disko atau melengkingnya suara vokalis dengan kostum penuh rantai?
    Jawabnya tentu tidak. Mereka masih ada. Bahkan mereka membentuk komunitas yang di Jogja mereka namakan Komunitas 80-an Jogja.
    Komunitas itu dibentuk atas dasar pemikiran munculnya sinergi yang ditimbulkan oleh berkumpulnya orang-orang yang secara umum sudah mapan secara kedudukan maupun perekonomian. Logikanya, orang-orang yang pernah menikmati masa remaja di era 80-an, saat ini kedudukan mereka tentu sudah establish. Dengan semakin banyaknya anggota komunitas, mereka punya kemampuan untuk berbuat nyata dan bermanfaat seperti donor darah, penggalangan dana bagi kemanusiaan dan sebagainya.
    Siapa pun boleh bergabung dengan Komunitas 80-an ini. Tidak ada batasan usia. Hanya saja, jika terlalu muda dan tidak pernah mengalami era 80-an, sangat besar kemungkinan tidak nyambung dengan bahan obrolan dan pembicaraananggota komunitas lainnya yang relatih lebih tua.
    Untuk bergabung dengan komunitas ini juga tidak diperlukan syarat-syarat khusus. Tidak perlu memiliki barang atau memorabilia tertentu, semacam mobil atau motor. Sebab yang mengikat adalah sekadar nostalgia masa lalu era 80-an.
    Ide pembentukan ini sendiri sebenarnya sudah lama. Sudah sejak 2005 para founding father di Jakarta secara brilian telah menggagas & mewujudkannya. Dimulai dari peluncuran website http://lapanpuluhan.blogspot.com, kemudian disusul milisnya pada Januari 2006, yang terbukti sukses di kemudian hari.
    Dalam perkembangannya anggota komunitas 80-an di Jogja merasakan perlunya membentuk komunitas tersendiri, karena mereka mengalamai kesulitan untuk berkomunikasi secara intens dan nyambung dengan rekan-rekan 80-an dari Jogja yang notabene secara geografis dekat. Mereka yang ada di Jogja merasakan pentingnya untuk bersosialisasi secara nyata, bukan hanya lewat website dan milis saja.
    Oleh karena itulah, atas seijin founder komunitas 80-an Jakarta akhirnya diputuskan membangun Komunitas 80-an Jogja, dengan maksud agar lebih mempermudah silaturahmi.
    Misi atau tagline dari komunitas 80-an Jogja adalah Silaturahmi Menyambung Rejeki. Komunitas ini adalah komunitas non partisan yang tidak berafiliasi terhadap suatu aliran apa pun, bersifat universal dan terbuka untuk umum, di mana kebersamaan terbangun diawali oleh kenangan 80-an yang pernah dialami bersama-sama. Dalam perjalanannya nanti Komunitas 80-an Jogja diharapkan dapat mempunyai peran atau kontribusi yang signifikan bagi masyarakat khususnya di Jogja.

KOMUNITAS BIS MANIA

BisMania Community (BMC)
KISAH tentang komunitas yang satu ini memang berawal dari sebuah blog. Itu pun bukan blog yang berkaitan langsung dengan aktivitas yang mereka lakukan sekarang. Blog itu adalah sbuah blog pribadi. Di blog yang beralamat www.anjarpriandoyo.wordpress.com. itulah penulis menceritakan tentang komplain dalam perjalanannya menggunakan bus. Thread tersebut ternyata mengundang banyak pengunjung, menciptakan sebuah suasana diskusi mulai dari kualitas karoseri bus, pelayanan suatu perusahaan otobus bahkan sampai bedah mesin. Di antara banyaknya orang yang berkomentar dan berdiskusi di thread itu, ada seorang bernama Gentur yang melihat bahwa ternyata yang memiliki kecintaan dan rasa tertarik terhadap bus tidaklah sedikit. Gentur lantas berfikir kenapa tidak diorganisasikan saja rekan-rekan tersebut dalam satu wadah -- dalam hal ini komunitas -- sehingga bisa memaksimalkan ide, gagasan atau hobi tersebut dalam tempat tersendiri, tidak selalu nebeng dalam blog pribadi mengingat peminat obrolan tentang bus semakin banyak

BALAPAN BAJAJ YANG UNIK

13406683941495799959
Sebuah bajaj sedang melintas diiringi sorak sorai beberapa warga yang menonton
Ketika menyaksikan acara nonton bareng (Nonbar) di sebuah restoran cepat saji di kawasan Santa, Jakarta Selatan. Tiba-tiba saja saya dan beberapa kawan yang sedang asyik menonton siaran langsung pertandingan Inggris vs Italia, dikejutkan dengan keramaian di persimpangan jalan Gunawarman dan jalan Wolter Mongonsidi.
Saat itu, ada teriak-teriak dari beberapa warga tepat di pinggir jalan yang menghubungkan kawasan Blok M dengan Mampang. Sontak saja, kami yang berada dalam restoran cepat saji tersebut langsung keluar untuk melihat keadaan yang terjadi.
Sebab, kami sangat khawatir bila keramaian tersebut berasal dari tawuran warga atau bentrokan lainnya. Namun, setelah melihat lebih jelas dengan mendatangi langsung, ternyata keramaian itu datang dari sekelompok massa yang sedang bertepuk tangan mendukung balapan bajaj yang sedang melintas. Tampak di sepanjang jalan berderet beberapa bajaj dengan tampilan mencolok yang dipenuhi modifikasi dan pernak-pernik seperti lampu hias.
Meski sebelumnya sudah pernah melihat aksi balapan liar antar bajaj yang kerap berlangsung setiap malam minggu di kawasan Daan Mogot dan Kemayoran, namun aksi balapan bajaj yang terjadi pada Senin dinihari itu sempat mengagetkan kami semua. Karena, awalnya sama sekali tidak menyangka di jalan yang ruasnya kecil itu, bisa terjadi unjuk kebolehan dari bajaj yang telah di rombak habis oleh pemiliknya.
Kendati begitu, balapan bajaj ini tentu berbeda dengan balapan motor liar yang banyak terjadi di beberapa kawasan Jakarta. Sebab, balapan motor lebih mengedepankan kecepatan dari sepeda motor yang tentu sangat berbahaya bagi pengguna jalan raya.
Sedangkan balapan bajaj, seperti yang saya lihat sendiri, lebih mengedepankan aksi-aksi sensasional dari pengemudinya. Seperti berjalan hingga kemiringan tertentu ala kendaraan sirkus dan juga seluruh bodi dipenuhi aksesoris serta lampu yang menyilaukan mata. Hanya saja, karena gambar yang saya ambil melalui kamera ponsel tidak mempunyai modus flash, dan hanya tersedia modus malam, alhasil banyak gambar yang ngeblur.
Berdasarkan jawaban dari beberapa warga yang sempat saya tanyai, mereka mengatakan bahwa balapan liar antar bajaj tersebut, tidak sering terjadi setiap hari. Melainkan ketika ada event tertentu atau memperingati suatu kegiatan penting dari komunitas tertentu. “Kalo disini bisa sebulan sekali ato dua mingguan sekali, ga tentu juga Mas. Tergantung ada joki atawa acara tertentu,” ucap seorang pemuda yang sempat saya tanya. Pemuda yang kemungkinan warga setempat itu asyik memotret beberapa gambar melalui kamera saku, dan sibuk meneriakkan bajaj jagoannya.
Sebenarnya balapan bajaj di Indonesia tepatnya kota Jakarta bukanlah barang baru, karena sejak tahun 1970an di daerah Tugu Pancoran, dahulunya sering terjadi. Saat itu, Jakarta masih belum begitu seramai sekarang, dan bajaj merupakan alternatif angkutan umum yang murah meriah, karena banyak didatangkan dari India negara asalnya, dan dirombak lagi sesampainya di Indonesia.
Beberapa tahun yang lalu, saat masih hobi keluar malam untuk mencari angin, saya kerap menemukan trek-trekan bajaj di sepanjang jalan Daan Mogot, Bendungan Hilir dan Kemayoran. Tetapi yang mengemudikannya bukanlah sopir bajaj asli, melainkan seorang joki yang biasanya merangkap sebagai mekanik di suatu bengkel bajaj untuk memodifikasi kendaraan roda tiga tersebut menjadi lebih menarik.
Selain untuk hiburan semata melalui gaya akrobat seperti yang dilakukan balapan tuk-tuk di sepanjang jalan utama di Bangkok, Thailand. Ternyata balapan bajaj ini menyangkut gengsi dari komunitas atau pemilik bajaj tersebut untuk menaikkan pamor di kalangannya. Dan dilakukan khusus waktu malam, karena saat siang harinya, sekeren dan sebagus apapun tampilan bajaj tersebut, tetap saja hanya angkutan umum biasa.

CLUB TAROT JAKARTA

Foto : Eye Management
​Ghiboo.com - Tarot adalah sekelompok kartu berjumlah 78 lembar yang umumnya digunakan untuk kepentingan spiritual atau ramalan nasib. 22 kartu disebut Arcana Mayor dan 56 kartu disebut Arcana Minor

Set Tarot yang paling populer adalah Tarot Rider-Waite-Smith yang diciptakan oleh A.E Waite dan ilustrator Pamela Colman Smith. Dokumen sejarah mengindikasikan bahwa Tarot berasal dari Italia. Sampai saat ini, permainan kartu Tarocchi (Tarot) masih sangat populer di Eropa.

Kepopuleran Tarot juga telah merambah ke Tanah Air, ini terbukti dengan kian menjamurnya para klien, Tarot Reader, juga komunitas-komunitas Tarot. Klub Tarot Jakarta adalah satu dari beberapa komunitas yang eksis menyelami dunia Tarot.

Komunitas ini dibentuk pada tanggal 6 Maret 2011 melalui kesepakatan bersama beberapa Tarot Reader yang berkumpul di Pasar Festival Kuningan, Jakarta. 

Klub Tarot Jakarta di bentuk sebagai wadah komunikasi untuk para Tarot Reader yang ada di Jakarta dan sekitarnya. Juga sebagai sarana belajar bagi mereka yang baru mengenal ataupun tertarik pada kartu Tarot.

Agenda rutin yang diadakan sebulan sekali untuk saling bersilaturahmi dan bertukar informasi akhirnya berkembang menjadi sebuah buku "Tarot For Beginner" yang di tulis oleh 7 orang anggota Klub Tarot Jakarta.

Anggota Klub Tarot Jakarta terdiri dari berbagai macam background, mulai dari Mahasiswa/i, Ibu Rumah Tangga, Penyiar Radio, Karyawan Swasta hingga yang berprofesi Ful Time Tarot Reader.

Beberapa pelatihan kecil atau mini workshop sering diadakan untuk teman-teman yang baru mulai belajar. Keanggotaan di Klub Tarot Jakarta tidak mengikat, siapapun berhak untuk ikut berkumpul dan berbagi.

Klub Tarot Jakarta pun tidak hanya melulu soal Tarot. Beberapa diantaranya juga mempelajari Numerology, Palmistry, Graphology, Hypnotheraphy, dan lainnya. 

Tarot di Klub Tarot Jakarta adalah bentuk pendekatan Psikologis manusia untuk mencari Solusi, memberi Motivasi ataupun sebagai sarana Curhat dari klien ke Tarot Reader sehingga jauh dari kesan mistik dan lainnya.

Klub Tarot Jakarta yang bekerja sama dengan Eye Management pun sering membuka booth Tarot di beberapa Mall dengan konsep terbuka agar masyarakat tidak melihat Tarot sebagai sesuatu yang menakutkan.

WISMA MULIA



Wisma Mulia
http://hermawayne.blogspot.com
Wisma Mulia memiliki tinggi 195,1 meter. Gedung ini memiliki 54 lantai dan selesai dibangun tahun 2003. Lokasinya terletak di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Wisma Mulia digunakan sebagai gedung perkantoran.

Kempinski Residences

Kempinski Residences
http://hermawayne.blogspot.com
Pembangunan apartemen yang menjadi satu dengan bekas Hotel Indonesia ini, selesai pada tahun 2009. Gedung ini dibangun dengan ketinggian 217 meter dengan jumlah 57 lantai. Bangunan ini tepat berada di jantung kota Jakarta, yakni kawasan Bundaran HI.